Site icon mediatokotani.com

Peran Pendidikan Vokasi Menolak Ancaman Krisis Pangan

Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) berpesan dan menegaskan bagaimana aparat negara harus menjaga ketersediaan pangan dalam negeri.

“Ketersediaan pangan saya minta Gubernur walikota agar hati-hati,” kata Jokowi, dikutip Kamis (31/12).

Apa yang dikatakan Jokowi bukan tanpa alasan, pasalnya, pandemi Covid-19 bisa menimbulkan krisis pangan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Kepala Ekonom FAO, Maximo Cullen, bahwa pandemi membuat akses ke makanan menjadi terganggu.

“Apa yang kita simpulkan dari sisi produksi dan persediaan adalah ketersediaan makanan untuk saat ini masih cukup. Masalahnya sebenarnya dalam fase ini adalah akses ke makanan. Jadi orang tidak akan bisa makan karena mereka kehilangan pekerjaan,” katanya.

“Karena mereka tak memiliki pekerjaan. Negara-negara berkembang akan dihadapkan pada tantangan besar akibat resesi global. Oleh karena itu mengapa jumlah orang yang kekurangan gizi meningkat hingga 132 juta,” imbuhnya.

Berbicara mengenai pangan, tak luput dari sektor pertanian di mana hampir 30% sektor ini menyerap tenaga kerja, khususnya di tanah air. Jika sektor ini terganggu, maka pengangguran akan terganggu dan akan mengganggu pasokan makanan.

Untuk itulah, sebagai negara agraris, dunia pendidikan vokasi berperan. Koordinator Kemitraan dan Penyelarasan SMK, Saryadi mengatakan dalam pengembangan SMK pertanian salah satunya dilakukan dengan mendorong SMK memiliki teaching factory.

“Mereka melakukan bagaimana berbudidaya, praktik di industri pertanian, sekolah masing-masing. Selain memproduksi komoditas pertanian, secara tak langsung memupuk anak-anak dengan kemampuan,” katanya.

Melalui pelatihan yang dilakukan di Cianjur, guru-guru diajarkan bagaimana memperoleh pelatihan dan pengembangan kemampuan di sektor pertanian ini. Kepala BBPPMPV Pertanian, Raden Ruli Basuni berharap, dengan memberikan pelatihan pertanian di tingkat pendidikan vokasi, akan berguna bagi ketahanan pangan tanah air.

“Pertanian digambarkan ortodok, kurang gaul, padahal perlu inovasi teknologi yang bisa membuat negara kita ketahanan pangannya berjaya,” katanya.

[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)

Exit mobile version