Site icon mediatokotani.com

Meski pandemi ekspor komoditas pertanian di perbatasan Indonesia-Malaysia melejit

Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan berbagai terobosan untuk memacu produksi, mutu hasil panen dan ekspor produk hortikultura terutama di era digital saat ini.

Liputan6.com, Tarakan – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan salah satu wilayah yang strategis dalam memproduksi pangan. Tak heran jika saat ini kegiatan ekspor di Kaltara mulai menggeliat meski masih ditengah pandemi Covid-19. 

Terbukti ekspor komoditas pertanian dari perbatasan tembus hingga 6.292 ton atau senilai dengan Rp18,6 Miliar dalam kurung waku 14 bulan sejak periode tahun 2020 sampai pertengahan bulan Februari 2021. Karantina Pertanian Tarakan Wilayah kerja (Wilker) Nunukan telah memfasilitasi ekspor komoditas pertanian dari Perbatasan Nunukan. 

“Jumlah ini cukup baik dalam kuantitas produksi daerah dalam bidang pertanian. Komoditas pertanian dan perkebunan tersebut diekspor ke Malaysia, dan sebagian ke Vietnam untuk produk turunan kelapa sawit,” ujar Kepala Karantina Pertanian Tarakan Akhmad Alfaraby, Senin (22/2/2021). 

Selain kalapa sawit, Pejabat Karantina Pertanian Tarakan Wilayah Kerja Nunukan juga belum lama ini mensertifikasi ekspor buah mangga, buah naga, alpukat dan jeruk nipis sebanyak 19,5 ton senilai Rp 475,9 juta dengan tujuan Malaysia.

“Kami melakukan pemeriksaan fisik dan visual terhadap media pembawa untuk memastikan bahwa media pembawa dalam kondisi baik, tidak busuk, serta tidak ada Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang terbawa pada media pembawa maupun kemasan,” katanya. 

Pihaknya terus mendukung kegiatan ekspor dengan melakukan pendampingan kepada para eksportir guna meningkatkan ekspor di Perbatasan Kabupaten Nunukan hingga mewujudkan Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) Program Kementerian Pertanian.

Akhmad menjelaskan, ekspor tersebut berasal dari berbagai komoditas pertanian seperti buah naga, buah mangga, alpukat, tomat, petai, jeruk nipis, pisang, dan hasil turunan kelapa sawit seperti bungkil kernel sawit.

“Sejauh ini kami memberikan pendampingan sehingga ekspor berlajalan lancar dan tidak terjadi penolakan dari negara tujuan,” tambahnya.

Komoditas ekspor di provinsi termuda di Indonesia ini, khususnya di Kabupaten Nunukan dapat terus meningkat balik volume, frekuensi maupun ragam jenis produk komoditas pertanian dan negara-negara tujuan ekspor yang baru. 

Exit mobile version